Tuesday, February 19, 2008

Bocah Pembeli Es Krim

Minggu siang di sebuah mal. Seorang bocah lelaki umur delapan tahun berjalan
menuju ke sebuah gerai tempat penjual eskrim. Karena pendek, ia terpaksa
memanjat untuk bisa melihat si pramusaji. Penampilannya yang lusuh sangat
kontras dengan suasana hingar bingar mal yang serba wangi dan indah.

"Mbak sundae cream harganya berapa?" si bocah bertanya.

"Lima ribu rupiah," yang ditanya menjawab.

Bocah itu kemudian merogoh recehan duit dari kantongnya. Ia menghitung
recehan di tangannya dengan teliti. Sementara si pramusaji menunggu
dengan raut muka tidak sabar. Maklum, banyak pembeli yang lebih "berduit"
ngantre di belakang pembeli ingusan itu.

"Kalau plain cream berapa?"

Dengan suara ketus setengah melecehkan, si pramusaji menjawab,
"Tiga ribu lima ratus".

Lagi-lagi si bocah menghitung recehannya, " Kalau begitu saya mau
sepiring plain cream saja, Mbak," kata si bocah sambil memberikan uang
sejumlah harga es yang diminta. Si pramusaji pun segera mengangsurkan
sepiring plain cream.

Beberapa waktu kemudian, si pramusaji membersihkan meja dan piring kotor
yang sudah ditinggalkan pembeli. Ketika mengangkat piring es krim bekas
dipakai bocah tadi, ia terperanjat. Di meja itu terlihat dua keping uang logam
Limaratusan serta lima keping recehan seratusan yang tersusun rapi.
Ada rasa penyesalan tersumbat dikerongkongan. Sang pramusaji tersadar,
sebenarnya bocah tadi bisa membeli sundae cream. Namun, ia mengorbankan
keinginan pribadi dengan maksud agar bisa memberikan tip bagi si pramusaji.

Pesan moral yang dibawa oleh anak tadi: setiap manusia di dunia ini adalah
penting. Di mana pun kita wajib memperlakukan orang lain dengan sopan,
bermartabat, dan dengan penuh hormat

0 comments:

Post a Comment

Yahoo bot last visit powered by  Ybotvisit.com Google bot last visit powered by Bots Visit